OBSERVATORIUM BOSSCHA

Observatorium Bosscha (penoropongan Bintang Bosscha)  dahulu bernama Bosscha Sterrenwacth, didirikan oleh Nederlands indische sterrenkundige vereeniging, yakni perkumpulan para ahli bintang Hindia Belanda. Pada tahun 1920  NISU didirikan, hasil dari suatu pertemuan dilobi hotel Savoy Homan, Bandung. Pada saat itu dibicarakan rencana pembangunan Observatorium Bosscha. Karel Albert Rudolf Bosscha (15 Mei 1861- 26 Nopember 1928) adalah sponsor utama dan bersama NISU memilih lambang sebagai lokasi Observatorium, setelah dipertimbangkan oleh para ahli Bosscha bukanlah seorang ilmuwan melainkan seorang pengusaha perkebunan teh di Malabar yang kaya raya dan cinta akan ilmu pengetahuan. Ia juga seorang pelopor berdirinya sekolah dasar pribumi pertama di Jawa Barat.

 
Pembangunan Observatorium Bosscha dimulai pada tahun 1923 dan selesai pada tahun 1928. Saat itu merupakan salah satu dari hanya 17 Observatorium dibelahan bumi selatan dan satu-satunya yang berlokasi  amat dekat dengan khatulistiwa. Observatorium Bosscha sejak tahun 1923 hingga 1949 berada dibawah NISU, diselingi Jepang pada tahun 1942 hingga 1945. Selanjutnya bekerjasama dengan Universitas Indonesia Fakultas IPA (UI-FIPA) pada tahun 1974. Pada bulan Oktober 1951 dikelola penuh oleh UI-FIPA sampai dengan tahun 1959. Akhirnya dikelola oleh jurusan Astronomi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung sejak tahun 1959. Tahun 1985 Observatorium Bosscha berubah statusnya menjadi UPT (Unit Pelayanan Teknis) langsung dibawah Rektor ITB. Observatorium Bosscha ITB berada pada 107 o  Bujur Timur dan 649 o Lintang Selatan diketinggian 1,310 meter dari permukaan laut. Suhu minimum 16 o c dan maksimum 22 o c. Keadaan tanah stabil dan cuaca cerah  15 o  malam pertahun.
            Direktur Observatorium Bosscha semenjak tahun 1923 serta kurun waktu   bertugasnya masing-masing adalah :
§         1923 – 1940  : Dr. J. Voute
§         1940 – 1942  : Dr. A. De Sitter
§         1942 – 1946  : Prof. Dr. Masashi Miyaji
§         1947 – 1949  : Prof. Dr. J. Hins
§         1949 – 1958  : Prof. Dr. G. B. Van Albada
§         1958 – 1959  : Prof. Dr. Ong Pik Hok dan Santosa Nitisastro (Pejabat Direktur)
§         1959 – 1968  : Prof. Dr. The Pik Sin
§         1968 – 1999   : Prof. Dr. Bambang Hidayat
§ 1999 - 2004: Dr. Moedji Raharto
§ 2004 - 2006: Dr. Dhani Herdiwijaya
§ 2006 - 2010: Dr. Taufiq Hidayat
§ 2010 - 2012: Dr. Hakim Luthfi Malasan
§ 2012 - sekarang: Dr. Mahasena Putra

 MISI DAN VISI DARI OBSERVATORIUM BOSSCHA ADALAH :
§         Penentuan orbit dan masa bintang ganda
§         Penentuan struktur galaksi
§         Penentuan jarak, lokasi dan usia suatu gugus bintang
§         Bintang Variabel
§         Pengamatan gerhana bulan
§         Pengamatan terkoordinasi dari obyek-obyek istimewa (komet, bintang meledak, dan sebagainya).

Pola Umum Penelitian Astronomi

§         Mengamati dan mengumpulkan data obyek yang dipilih
§         Pengolahan data yang terkumpul
§         Analisis data serta interpretasi yang koheren

 

Fungsi UPT Observatorium Bosscha

Sebagai suatu badan yang bergerak dalam cabang ilmu pengetahuan alam, khususnya astronomi yang mempelajari dan menyelidiki benda-benda langit di jagat raya. Dengan  perlengkapan yang ada di Observatorium, serta informasi-informsi baru yang diterima mengenai kamajuan  pengetahuan antariksa dari luar negeri, maka pengetahuan kita tentang  alam raya ini akan semakin luas dan maju. Adapun kerjasama penelitian sering dilakukan dengan negara-negara asing, seperti Amerika, Jepang, Belanda, Indian dan sebagainya.
Dengan misi ini pengamatan dibutuhkan fasilitas yang memadai. Dan UPT Observatorium  Bosscha memiliki fasilitas-fasilitas sebagi berikut :
§         Refraktor Ganda Zeiss
Diameter masing-asing lensa 60 cm, panjang titik api 10,7 meter dan dilengkapi dengan :
      -   Teropong pencari dengan diameter 40 cm
      -   Kisi difraksi (diletakkan dimuka lensa utama)
Digunakan untuk :
-          Menentukan  orbit dan parameter fisis bintang ganda
-          Menentukan gerak bintang dalam gugus bintang (star cluster)
-          Penentuan obyek-obyek astronomi seperti (komet, bintang  meledak (supernova)).

Reflektor Schmidt “ Bima Sakti”
            Diameter cermin 71,12 cm, panjang titik api 1,6 meter dilengkapi dengan :
-     lensa korektor type Schmidt
-          Prisma pembias dengan sudut 6,5 o ( untuk spektros kopi bintang)
-          Wedge sensitometer guna menara kehitaman plat potret sebagai indikator skala terang bintang.
Digunakan untuk :
-          Menentukan spektrum bintang
-          Menentukan struktur galaksi Bima Sakti
-          Mempelajari obyek-obyek istimewa, komet, bintang meledak.

Reflektor Cassegrain “   Goto”       
            Diameter cermin 45 cm, panjang titik api 5,4  meter kontrol teleskop sepenuhnya dilakukan dengan komputer, dilengkapi dengan :
-          Fotometer Fotoelektrik (peranti pengukur skala terang bintang dengan cara mengubah foton menjadi elektron atau arus listrik), tipe cacah foton.
-          Spektrograf dengan kisi pemantul (900 garis/ mm)
-          Kamera elektronik CCD
Digunakan untuk :
-          Menara skala terang obyek langit
-          Pencitraan obyek langit
-          Menentukan spektrum bintang

Refraktor Tunggal  Bamberg         
            Diameter lensa 37 cm, panjang   titik api 7 meter, dilengkapi dengan  fotometer  fotoelektrik tipe DC, dan digunakan untuk menara skala terang bintang dan melihat bulan.
Refraktor Tunggal “Unitron”

            Diameter lensa 15 cm, panjang titik api 87 cm, dilengkapi dengan alat-lat pemotret (kamera fotograpi). Digunakan untuk memotret obyek langit terutama bulan dan merekam fenomena langit.

            Diabad ke 20, kita melihat langit seisinya dari sudut yang jauh berbeda. Kunjungan ke Bulan sudah bukan merupakan petualangan yang terlalu muskil. Dasar ilmu untuk mengetahui lingkungan Bumi dan antariksa telah ada di tangan. Tetapi apa yang sebenarnya dilihat oleh astronom ?
Bagi ahli fisika atau ahli kimia, alat-alat percobaan dan materi didalam labolatoriumnya adalah permainannya yang menarik. Demikian pula bagi seorang astronom, langit, bintang, bulan   dan planet adalah tempat-tempat yang menarik untuk diamati. Benda-benda tadi merupakan laboratorium.  Dengan perbedaan yang esensial, dibanding dengan laboratorium tersebut terdahulu. Laboratorium astronomis itu tidak kita pengaruhi, tidak kita raba  dan tidak bisa kita ubah-ubah, tetapi astronom tidak hanya melihat, lebih dari itulah kosmos merupakan laboratoriumnya tempat mengecek perumusan fisika jodyana ini. Astronom ingin mengetahui hukum dan kaidah-kaidah materi di dalam ruang lingkup yang ekstrim.
Dari pengetahuan yang didapatnya itu dia ingin menerobos frontier atau perbatasan baru, untuk mencari  hakikat alam serta materi yang melingkupinya.
            Astronomi dan sekarang antariksa adalah Union, fakta  antara pengetahuan mengenai benda serba lembut dan serba besar. Dalam melihat kosmos mikro, astronom ingin mengetahui sifat dan kelakuan inti, atom,  molekul, benda serba padat, planet dan hubungan fungsional antara unit tersebut. Tetapi dalam melihat kosmos makro, dia melihat bintang-bintang dan unit-unit lain dalam hirarki yang membesar. Bintang-bintang bergabung dalam gugus, didalam asosiasi. Tetapi ini semua adalah bagian kecil dari suatu organisasi yang lebih besar, galaksi, ribuan galaksi, 200 milyar banyaknya, menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok gugus galaksi. Jumlah bintang dalam tiap galaksi banyak dan sudah merupakan organisasi yang pelik. Adakah hukum yang menguasai semua itu, yang mengatur gerakkannya, yang mengatur pembangkitan dan keseimbangan energinya ?
            Itulah sedikit dari daftar pertanyaan yang ada pada setiap saku astronom. Sains–fiksi sudah pelik, tetapi alam sebenarnya jauh lebih pelik tetapi indah. Astronom menyibukkan dirinya  dengan permainan-permainan yang aneh; Dia mempunyai katai putih dan raksasa merah, disana sini ada guasars ada pulsars. Didalam teorinya, bergerak  model-model   kecil dari atom-atom yang sedang aktif memancarkan berkas cahaya, tetapi dalam waktu yang bersamaan dia juga harus menerangkan    jagat makro yang dilihatnya. Sumber informasi astronom adalah ilmu dan  teknologi  modern. Dan dalam perjalanannya profesinya akan tersandung dengan hal-hal musykil  yang harus dibuatkan lagi teori dan alat-alat baru.
            Dengan adanya Observatorium Bosscha di Indonesia, membantu untuk prakiraan  cuaca, menentukan waktu shalat dan juga untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan Astronomi serta Antariksa diperlukan bagi negara kita ini sebagai sarana pengembangan  profesi maupun sebagai pendukung pengembangan keilmuan. Adapun karya-karya yang telah dihasilkan bagi dunia astronomi yang terdahulu dan berguna untuk pendidikan astronomi dan antariksa dimasa sekarang ialah seperti teleskop optik yang pertama kali ditemukan oleh Galileo Galilei astronom Itali pada tahun 1609, digunakan untuk menangkap gelombang optik. 

Penggunaan teleskop ini untuk mengamati benda langit. Dan semua teleskop di Observatorium Bosscha adalah teleskop optik. Pengamatan yang dapat dilakukan dipermukaan bumi terbatas pengamatan untuk pancaran optik dan radio. Informasi  yang didapatkan dari kedua jenis pancaran itu tentu saja sangat terbatas. Para astronom berusaha mengamati jenis pancaran lainnya, seperti gelombang infra merah, ultraviolet, sinar-x, sinar-y, dan sebagainya. 

Karena gelombang itu tidak dapat diamati dari permukaan bumi, maka yang harus dilakukan adalah membawa peralatan keluar atmosfer bumi, yaitu dengan perantaraan balon roket atau satelit. Contohnya satelit UHURU yang diluncurkan pada tahun 1970 untuk pengamatan astronomi sinar-x, satelit IUE (International Ultraviolet Explorer) pada tahun 1978 untuk pengamatan sinar ultraviolet, dan IRAS (Infra Red Astronomical Satellite) yang diluncurkan pada tahun 1983 untuk pengamatan sinar infra merah dengan diluncurkan berbagai satelit ini kita memperoleh informasi yang makin lengkap mengenai jagad raya beserta seluruh isinya dalam seluruh tentang spektrum. 

Pada masa terdahulu astronom tenggelam pada kemegahan astrologi karena segala perhitungan dan pengamatan benda langit ditujukan untuk hal-hal religius yang mampu meramal   masa depan seseorang atau suatu bangsa. Baru sekitar 150 tahun sebelum  masehi, ahli-ahli astronomi bangsa Yunani benar-benar memisahkan astronomi dan astrologi. Mereka melakukan   lebih cermat  dan sistematik terhadap posisi benda-benda langit, mereka menyumbangkan hasil yang didapat  untuk ilmu pengetahuan  dan bukan untuk hal-hal yang bersifat takhayul. 

Walaupun sekarang astronomi dan astrologi sudah terpisah dengan jelas, namun penamaan rasi-rasi bintang dan planet dalam astrologi masih digunakan sampai sekarang. Misal saja dari 88 rasi bintang yang ada  dilangit, 12 nama rasi bintang berasal dari nama astrologi. Banyak para astronom-astronom yang berjasa pada ilmu pengetahuan atas penemuan-penemuanya seperti satelit Jupiter yang mempunyai 16 satelit. Empat yang terbesar ditemukan oleh Galileo Galilei ialah 10; Europa, Ganymade dan Callisto, dan juga planet Uranus yang ditemukan oleh Sir William Herechel dari Inggris, dan juga Asteroid pertama yang ditemukan oleh Piazzi astronom asal Itali tahun 1801. Asteroid  ini dinamakan Ceres dan juga merupakan asteroid yang paling besar. Adapun  astronot yang pertama kali menginjakkan kaki kepermukaan    bulan yaitu Neil Amstrong, Edwin Aldrin dan Michael Collins dengan menggunakan Apollo 11 pada tanggal 16 Juli 1969.
           

  Dan masih banyak lagi penemuan-penemuan yang ditemukan oleh para astronom dan karya-karya yang sangat berguna bagi dunia astronomi ini.

            Observatorium Bosscha sejak tahun 1923 hingga 1949 berada dibawah NISU, diselingi Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Selanjutnya bekerjasama dengan Universitas Indonesia Fakultas IPA (UI-FIPA) pada tahun 1947, pada bulan Oktober 1951 dikelola oleh jurusan Astronomi, fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung  sejak tahun 1959. Tahun 1959 Observatorium Bosscha berubah statusnya menjadi UPT (Unit Pelayanan Teknis) langsung dibawah Rektor ITB.

Hubungan lembaga hisab ru’yat DEPAG dengan Observatorium Bosscha ialah untuk melakukan  hisab maupun ru’yat dalam penentuan  awal waktu shalat wajib dan awal bulan Qamariyah diperlukan pengetahuan dasar astronomi posisi. Pengetahuan ini merupakan bagian dari astronomi, yang terkait pada posisi atau koordinat benda langit. Oleh karena benda langit yang menentukan dalam hal hisab dan ru’yat adalah matahari, bulan dan bumi, maka Observatorium Bosscha sangat berpengaruh penting pada jalannya penentuan jadwal  waktu shalat dan pada penanggalan.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.