Aku Ingin Mengambil Anakku


"Bagaimanapun juga, dia adalah anakku." Begitulah yang dikatakan Aji (26), sebelum memulai kisahnya. Tak lupa, Aji pun mengakui segala kekhilapan yang telah dilakukannya beberapa tahun yang lalu. Aji begitu merindukan kehadiran anaknya. Namun, mengapa pula Aji tidak bisa mendapatkan anak yang merupakan darah dagingnya sendiri? Inilah penuturan Aji, yang nama aslinya tak mau disebutkan.

*

Memang aku sangat berdosa. Namun justru itulah, aku tak mau menambah beban dosa-dosaku. Setelah kusadari akan salahnya perbuatanku, maka aku bertekad ingin mengambil anakku. Walau anakku terlahir dari hasil perbuatan tercela, namun tetap saja merupakan turunan darah dagingku. Di tubuhnya mengalir darahku. Dan aku tak mungkin menyia-nyiakan anakku. Aku merasa punya hak dan kewajiban untuk ikut mengurusinya.

Tiga tahun yang lalu, aku berjumpa dengan sahabatku semasa SMU. Sebut saja namanya Rina. Mulanya aku pun sempat ragu, untuk mengenalinya. Mungkin hal itu disebabkan oleh perubahan pada diri Rina yang begitu drastis. Baik dari segi pis atau karakternya. Rina sungguh telah banyak berubahnya. Jika waktu sekolah, Rina kupandang sebagai seorang gadis yang biasa-biasa saja. Tetapi saat berjumpa di sebuah mall itu, Rina nampak sangat istimewa. Parasnya semakin cantik. Bentuk tubuhnya pun, jauh berbeda dengan yang dulu kukenal. Mungkin Rina rajin pitnes atau olahraga lainnya. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku tertarik pada 'kesan pertama'nya. Kebetulan juga pada saat itu, aku belum memiliki calon istri. Pacarku baru saja memutuskan hubungan kasih beberapa bulan sebelumnya. Sehingga aku pun sempat memastikan, kalau Rina itu adalah calon pengganti kekasihku yang telah hilang.

Sayang seribu sayang. Perkiraanku sangat jauh dari kenyataan. Ketika kami bercerita tentang suatu hal yang pribadi, Rina ternyata sudah menikah. Bahkan Rina pun menceritakan keadaan suaminya yang begitu membanggakan. Menurut Rina, suaminya adalah salah seorang pengusaha besar di kota Jakarta. Tak lupa Rina pun menceritakan kehidupannya yang sangat berkecukupan. Tidak kurang suatu hal apapun, baik dari segi lahiriah ataupun batiniah. Tentu saja aku begitu kecewa. Walaupun perasaan itu, kupendam dalam lubuk hatiku yang paling dalam.

"Saya ikut bahagia mendengarnya." Kata-kata itulah yang terucap dari bibirku. Mungkin hanya aku yang tahu, kalau ucapan itu sangat bertolak belakang dengan hati kecilku.

RINA MENEMUIKU
Awalnya aku hanya menganggap formalitas saja, ketika aku dan Rina saling bertukaran alamat. Walau bagaimanapun, aku tak punya niat untuk bermain-main ke rumahnya. Mau apa? Dia sudah bersuami. Terlebih lagi bagi Rina. Rasanya lebih tak mungkin lagi, jika mau meluangkan waktunya untuk berkunjung ke tempatku. Selain suaminya yang (katanya) sangat ideal. Ditambah lagi dengan hubungan persahabatanku waktu sekolah, tidaklah terlalu akrab. Rina bukan salah satu teman wanita yang dekat denganku. Berbeda dengan Nia atau Nur, yang sampai saat ini masih suka saling berkunjung. Walaupun Nia atau Nur sudah punya suami, bahkan telah dikaruniai anak.

Memang terkadang yang terjadi dalam kehidupan itu, sangat jauh dari segala yang direncanakan atau diperkirakan. Buktinya, tiga bulan kemudian Rina menelpon pada HP-ku. Berjam-jam lamanya, Rina mengajakku berbicara melalui HP-nya juga. Tentu saja, aku tidak segera berprasangka yang bukan-bukan. Paling-paling Rina hanya iseng saja. Seperti halnya sebagian istri-istri orang kaya lainnya, yang suka kebingungan menghabiskan pulsa HP. Berbeda dengan aku, yang begitu mengiritnya dalam menggunakan HP. Bahkan kalau aku, lebih banyak menggunakan jasa wartel. menggunakan HP paling hanya sekali-kali, jika dalam keadaan yang terdesak. Sebagai pekerja kecil, memang aku harus pinter-pinternya menghemat pengeluaran uang.

"Saya mau main ke rumahmu. Tapi takut ada yang cemburu..." tiba-tiba Rina berkata seperti itu. Membuat jantungku kembali berdebar-debar. Tapi kucoba untuk tidak terlalu GR.

"Di rumahku tak ada siapa-siapa. Lagian siapa lagi yang mau cemburu? Saya udah putus sama pacar, kok." Jawabku dengan tenang.

"Kalau begitu, sekarang saya mau ke sana."

"Rumahku bukan rumah. Ini adalah kamar kontrakan yang kecil."

"Saya bukan mau menilai tempat tinggalmu. Tapi ingin bertemu sama kamunya." Rina membesarkan hatiku. Sehingga tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mengiyakan kedatangannya. Rina meminta dijemput di ujung gang, yang menuju ke rumah kontrakanku.

CURHATNYA RINA
Betapa kagetnya ketika menyaksikan sikap Rina. Tanpa ragu-ragu, dia tidur-tiduran di atas tempat tidurku. Bahkan Rina pun berani membuka baju bagian luarnya, dengan alasan gerah. Untung saja, Rina mengenakan kaos mini. Namun tetap saja membuat perasaanku semakin tiada menentu. Betapa tidak? Suasana di dalam ruangan utama yang sekaligus ruang tidur kontrakanku, hanya berduaan saja. Tak ada orang lain lagi. Tapi yang lebih menggetarkan hariku adalah tuturan cerita pribadinya, yang sangat berbeda dengan apa yang dikatakannya beberapa waktu yang lalu.

Entah benar atau tidak. Yang pasti Rina mengatakan bahwa suaminya adalah seorang (maaf) homosexual. Sejak pernikahannya yang telah berlangsung selama satu tahun, suaminya tidak pernah berpungsi sebagai laki-laki. Pernikahannya dengan Rina, hanya sebatas untuk menutupi kelainannya. Tentu saja Rina pun, baru mengetahui, setelah resmi menjadi istrinya.

"Saya mencoba untuk bertahan, Ji..." begitulah ucap Rina, sambil menitikan air matanya, membasahi kedua pipinya.

Walaupun Rina tidak pernah mendapatkan nafkah bathin dari suaminya, Rina mengaku tidak pernah melakukan selingkuh dengan laki-laki lain. Menurut Rina, hal itu dikarenakan suaminya yang sangat mencintai dan menyayanginya. Sehingga Rina merasa kasihan, jika harus berpaling atau menghianatinya. Rina pun selalu menutupi kelainan suaminya.

"Tak ada seorang pun yang kuberi tahu, kecuali kamu." Tambahnya pula.

"Lalu apa maksudmu memberitahukan saya?" memang pertanyaan itulah yang sejak mula ingin segera kulontarkan. Tadinya aku sempat ragu-ragu. Tapi tiba-tiba keberanianku menjadi bertambah, tatkala menyadari sikap dan perkataan Rina yang semakin berani. Dia mulai membuka kartunya, tentang hubungan hubungan suami istri, yang sangat pribadi bagi pasangan rumah tangga. Rina menghampiriku lebih dekat lagi, seraya menyandarkan kepalanya pada pundakku.

*

Kali ini Rina memang seperti yang ragu, untuk menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba matanya memandangku dengan tatapan yang aneh. Matanya seakan ingin menembus ke dalam alam pikiranku. Namun lama-kelamaan akhirnya meluncurlah sebuah ucapan dari bibir merahnya.

"Ji, saya pingin punya keturunan..." begitulah ucapnya. Matanya tak lepas menatapku. Tentu saja aku terkejut. Setelah beberapa saat lamanya Rina menceritakan kesetiaan terhadap suaminya, tiba-tiba Rina mengatakan hal itu. Walau bagaimanapun juga, aku tak percaya kalau Rina benar-benar hanya ingin punya anak. Yang ada dalam pikiranku, Rina tak tahan dengan belenggu sepinya.

"Saya bersumpah, Ji. Saya hanya ingin punya seorang anak." Tapi Rina tetap bersikeras pada keyakinannya. Bahkan aku pun lambat laun menjadi percaya, ketika Rina mengatakan 'telah minta ijin' pada suaminya.

"Lalu suamimu mengijinkan?" aku penasaran.

"Ya. Dia mengijinkannya. Sebab dia pun menginginkan seorang keturunan. Tapi dia mengeluarkan suatu sarat."

"Apa itu?"

"Anak yang akan kulahirkan nanti, harus keturunan dari satu orang laki-laki. Tidak boleh lebih..." begitulah kata Rina. Dan aku pun mengerti akan arah kata-katanya. Rina menjatuhkan pilihannya kepadaku untuk mengalirkan darah pada keturunannya.

Memang jika aku mau menuruti hawa nafsu, mungkin tidak akan berpikir dua kali. Rina yang sekian lama hanya ada dalam khayalan, saat itu tinggal kupetik dan kuhisap. Tapi didikanku memang agak lain. Aku terlahir dan dibesarkan di kampung terpencil. Sedari kecil, aku sudah digembleng dengan ajaran agama yang cukup kuat. Sehingga ketika dihadapkan pada persoalan Rina, aku tetap berpikir secara matang. Ada suatu perasaan takut dalam diriku. Perkataan para sesepuh Kampung, selalu terngiang dalam telingaku. "Jika melakukan perbuatan zinah dengan seorang wanita yang punya suami, maka hukumannya adalah 40 tahun di dunia dan 40 tahun di akherat." Kata-kata itulah yang kuingat. "Hidupnya akan sial seumur-umur..." kaliamt itu pun, sempat kudengar dari seorang seniorku di pengajian.

PERNIKAHAN HITAM
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau." Rina terlihat sangat kecewa. Dia segera bangkit, seraya bersiap-siap meninggalkanku. Aku semakin bingung. Di satu sisi, memang aku sangat menginginkan Rina. Tapi di sisi lain, rasa ketakutan itu tak bisa dipupuskan begitu saja. Antara nafsu dan peringatan. Antara kebaikan dan kedholiman. Antara hitam dan putih. Semuanya berbaur dan berperang dalam jiwaku.

Entah bagaimana mulanya. Rina tiba-tiba memelukku, sambil meneteskan air matanya kembali. Rasa iba pun muncul dalam benakku. Tetapi tak dapat kupungkiri, hasrat kelaki-lakianku yang lebih mendominasi. Sebab telah terjadi kontak fisik yang begitu rapat. Mungkin juga Rina sengaja melakukannya. Yang pada akhirnya, aku pun tak bisa bertahan. Kucoba untuk mencari jalan lain, untuk memenuhi hasratku.

Entah darimana aku mendapatkan ide untuk menghadapi Rina. Saat itu, aku cepat-cepat menghempaskan tubuh Rina. Aku tidak mau melakukan perbuatan tercela dengan Rina. Namun aku pun tak mau kehilangan Rina. Hingga pada akhirnya, Aku membawa Rina kepada seorang sesepuh di suatu tempat. Sebut saja namanya H Ali. Di sana aku meminta H Ali untuk men-syahkan pernikahanku dengan Rina secara agama. Aku memang mendustai H Ali, dengan mengatakan Rina seorang janda dan telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Sehingga H Ali pun, yanpa ragu-ragu lagi memenuhi permohonanku. Namun tak dapat kubayangkan, betapa akan murkanya jika H Ali mengetahui status Rina yang sesungguhnya.

H Ali menyatakan bahwa kami sudah sah menjadi suami-istri, setelah kami memenuhi segala persaratan nikah. Rina terlihat sangat bahagia. Terlebih lagi, ketika menerima mas kawin dariku, sebuah cin-cin yang terbuat dari mas. Walau hanya 2 gram setengah.

RINA PUN MENGANDUNG
Setelah itu, barulah aku berani melakukan hubungan sebagaimana halnya sepasang suami istri. 'Malam pertama' kami rayakan di sebuah penginapan sederhana yang terletak di Bandung Timur. Selanjutnya aku dan Rina sering bertemu atau janjian di berbagai tempat rekreasi. Hanya sekali-kalinya Rina tidur di kamar kontrakanku, sebab aku tak mau menimbulkan kecurigaan dari para tetanggaku. Singkat cerita, aku dan Rina telah merengguk kebahagiaan yang sulit dituliskan oleh kata-kata. Semuanya kureguk bersama Rina. Seakan aku merasakan Rina itu hanyalah miliku dan akan kumiliki selama-lamanya.

Bagaikan baru terjaga dari tidur. Mulanya aku berusaha untuk tidak percaya, tapi memang itulah kenyataan. Rina menelponku, dan mengabarkan kalau dirinya telah mengandung. Aku bahagia. Tapi hanya sesaat. Sebab saat itu pula, Rina mengucapkan terimakasih, serta berpamitan kepadaku. Dia tak akan menemuiku lagi. Sungguh suatu pukulan yang sangat berat bagi diriku. Aku belum siap kehilangan Rina. Aku pun begitu merindukan suara tangisan seorang bayi, yang akan terlahir dari rahimnya. Tapi Rina telah pergi. Bahkan dia menghilangkan jejaknya. Entah pindah ke kota mana. Yang pasti, pemilik alamat tempat tinggalnya yang semula, telah berpindah tangan pada orang lain. Seandainya saja aku mempunyai kekuatan hukum, ingin rasanya kuadukan kepergian Rina. Dia telah pergi dengan melarikan anakku. Betapa kejamnya Rina. Tak memberi kesempatan sedikitpun kepadaku, untuk memomong darah dagingku sendiri.

AKU MENIKAH
Satu tahun berlalu, Rina menghilang dari kehidupanku. Ada sebuah kerinduan yang bergejolak dalam jiwaku. Tentu saja, sebagai seorang laki-laki yang pernah merasakan hidup bersama seorang wanita, lama kelamaan sangat wajar jika menginginkan kembali sentuhan lembut seorang istri. Hanya ada satu jalan, yaitu dengan melupakan dan menghapus nama Rina selama-lamanya. Lalu mencari sosok wanita lain, yang akan kujadikan penggantinya.

Perkenalanku dengan seorang gadis Ciamis, merupakan harapan cerah bagi kehidupanku. Rasanya tidak terlalu penting untuk menceritakan perjalanan jalinan asmaraku dengannya. Yang penting, dua bulan setelah pertemuan itu, aku langsung meminangnya. Dia seorang gadis yang lugu. Namanya adalah Ros. Tidak secantik Rina, namun sikapnya yang penuh kasih sayang, mampu meluluhkan hatiku. Aku begitu menyayanginya. Pernikahan pun dilangsungkan dengan sebuah pesta yang cukup meriah. Untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan hidup berumah tangga bersama seorang wanita yang benar-benar kumiliki. 

*

Ros telah menjadi istriku yang baik. Dalam kesehariannya, dia selalu dewasa dalam berpikir dan bersikap. Kasih sayangnya pun begitu tulus, hanya untukku seorang. Tak dapat disangsikan lagi, bahwa aku tidak salah dalam memilih seorang istri. Aku bahagia hidup bersamanya. Ros mau menerimaku apa adanya. Tak pernah sekali pun, Ros menuntut suatu hal yang ada diluar kemampuanku.

Tapi hidup ini selalu saja diwarnai oleh suka dan duka. Setiap kebahagiaan, pasti ada kesedihannya juga. Tak ubahnya dengan roda yang berputar. Kadang di atas. Kadang pula di bawah. Seperti masalah yang menerpa rumah tanggaku dengan Ros. Di satu sisi, kami tidak pernah memperbesar masalah apapun. Jika ada kekurangan, selalu akan saling mengisi. Jika ada kelemahan, pasti akan saling menutupi. Namun tidak termasuk pada masalah yang makin lama, kian menjadi kidung kepahitan bagi kami.

Sudah hampir satu tahun menjalani rumah tangga, kami tak jua mendapat tanda-tanda akan mendapatkan keturunan. Mungkinkah di antara aku dan Ros ada yang mandul? Atau mungkin juga ini suatu hukuman bagi aku, orang yang berlumurkan dosa?

ISTRIKU, TERLALU SUCI UNTUK DISAKITI
Seperti halnya aku, Ros juga begitu mendambakan kehadiran seorang anak. Tapi kami tetap berusaha mencari jalan yang rasional. Tak terlintas sedikit pun dalam benakku, untuk mencari jalan pintas demi mendapatkan seorang anak. Sabar dan sabar, itulah yang membuat aku dan Ros selalu bertahan.

"Mungkin akan lebih baik, jika Kang Aji menikah lagi." Tiba-tiba Ros berkata seperti itu. Membuat aku begitu terkejut setengah mati. Betapa tidak? Wanita mana yang mau dimadu. Sementara Ros begitu ikhlas merelakan dirinya untuk mendapatkan posisi seperti itu.

Tidak. Aku tak mau melakukan itu. Terlalu kejam, jika aku menikah lagi. Tapi yang jelas, aku semakin tidak tega melakukan hal itu, setelah mendengar ucapannya itu. Mungkin juga Ros mengatakan hal itu, dikarenakan takut aku mendapatkan kekecewaan atas semuanya. Padahal, aku sudah cukup merasa berbahagia untuk bisa hidup seia sekata bersamanya. Aku semakin tahu akan kemuliaan hati istriku. Tak mungkin aku menyia-nyiakannya.

"Kita ambil anak angkat saja, dari panti asuhan." Ucap istriku lagi. Memang tak dapat kupungkiri, kalau Ros begitu menginginkannya.

"Nah kalau itu, baru akan Papah pikirkan." Jawabku dengan pasti. Ros pun terlihat sangat gembira.

"Kapan?"

"Nanti ya. Tapi Papah janji, pasti akan secepatnya." Setelah mendengar perkataanku, Ros terlihat semakin berbunga-bunga. Membuat aku ingin segera melakukan apa yang diminta olehnya. Tapi tentu saja, aku tidak akan terburu-buru.

RINA DATANG KEMBALI
Sebelum aku sempat menginjakan kaki ke sebuah panti asuhan, tiba-tiba aku dikejutkan oleh telepon dari Rina. Kugigit jemariku, untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tapi memang, Rina tidak datang pada hayalanku. Dia benar-benar hadir dalam realita.

"Saya ingin bertemu dengan anak saya..." itulah kata-kataku yang pertama dilontarkan pada Rina.

"Bukan anakmu, tapi anak kita." Jawab Rina, dengan gaya bicaranya yang sangat khas.

"Iya. Sama saja." Aku tak mau menanggapi leluconnya.

"Saya ditunggu di sini..." Rina pun seperti yang mengerti akan keadaanku. Dia langsung menyuruhku datang ke sebuah hotel. Tentu saja, aku tidak membuang waktu lagi. Saat itu pun, aku langsung menuju Rina. Hatiku sudah diliputi oleh berbagai perasaan yang penuh kebahagiaan.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan kamar Rina, sebab Rina pun telah memberitahukan nomornya. Tapi yang membuatku kecewa, ternyata Rina hanya sendirian di dalam kamarnya. Tak kutemui sosok seorang anak yang begitu kurindukan.

"Kamu membohongi saya..." untuk pertama kalinya, aku marah kepada Rina.

"Sabarlah. Suatu saat, dia akan kupertemukan pada ayahnya. Kamu harus mengerti, sebab posisi kita sangat sulit." Rina berkata dengan tenang. Belaian tangannya, mampu membuat amarahku mereda. Hatiku lulujh. Tak dapat kupungkiri, bahwa memang aku juga sangat mencintai Rina.

"Lalu apa maksudmu memanggil saya kemari?"

"Saya rindu..."

"Tidak! Yang membuat sayadatang kemari, bukan masalah ini. Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya, dan menjalankan kewajiban saya sebagai seorang ayahnya." Aku berusaha meredam hasrat yang mulai bergejolak.

"Benar. Memang begitulah seharusnya. Seperti halnya kewajibanmu pada istrimu..."

"Istri?" aku tertegun.

"Ya, saya kan masih istrimu? Saya belum merasa diceraikan sama kamu." ucap Rina dengan tegas. Dia memang pintar. Sehingga aku pun tak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya diam, tatkala tangannya mulai memapahku ke dalam pelukannya. Antara benci, rindu, cinta, perasaan berdosa, semuanya berkecamuk lagi dalam jiwaku. Namun walau bagaimanapun, aku tak mampu menolak sentuhan Rina. Dia begitu istimewa bagiku. Sehingga aku pun mulai mendapat keyakinan, bahwa memang benar Rina itu masih istriku.

Ros, istriku yang begitu suci, akhirnya telah kuhianati. Walau dengan alasan apapun, aku tetap berdosa. Tapi memang aku memiliki setitik harapan pada Rina. Telah kutanam benih kedua dalam tubuh Rina. Entah bisa dipercaya atau tidak, Rina berjanji untuk memberikan anakku, jika nanti telah lahir ke dunia ini. Tapi apakah mungkin semua itu bisa terwujud? Sementara untuk menemui anak pertamaku saja, begitu sulit rasanya.

"Ros, tunggu yah, satu tahun lagi..." hanya itu yang kukatakan pada Ros. Aku terpaksa tidak berterus terang. Yang penting, aku sudah bertekad untuk mengambil anakku pada saatnya nanti. Ros tersenyum sambil menatapku dalam-dalam. Ada pancaran kedamaian dalam pancaran matanya. Kutemukan sebuah telaga keteduhan, dalam kehalusan sikapnya. ***



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.